Jom kita menyumbang untuk umat Islam di KEMBOJA !! Fisabilillah...

Oct 25, 2009

Antara jiwa dan hati


Salam alaik! Saat ini hati umi bergetar, memburu tenang dalam kekalutan, justeru jiwa mencari jalan tenang, justeru lahirlah persoalan ini - adakah jiwa mendidik hati @ hati mendidik jiwa? sukar bagi kita langsung memahami apa sebenarnya hakikat hati nurani atau qalb. Hati nurani itu apa ? Hati yang beku itu seperti apa dan hati yang terhijab bagaimana mekanismenya? Dalam Alquran sering disebut dengan orang yang hatinya sakit, hatinya membatu, hatinya yang buta… dan lainnya, hati yang manakah itu? Sebagian orang mudah sekali mengatakan bahwa apa yang terlintas dalam fikirannya saat itu bersumber dari hati nurani nya.

Bicara Imam Al-Ghazali dalam kitabnya ”Ajaaib al-quluub”:Hati memiliki dua makna, sepotong daging yang (mudhghah) yang terletak di bagian kiri dada, di dalamnya terdapat rongga berisi darah hitam. Dan di situ pula sumber atau pusat ruh. Beliau menjelaskan bahawa yang dimaksud dengan hati itu pada dasarnya adalah bukan organ hati tersebut, Makna kedua, hati adalah sebuah lathiifah (sesuatu yang amat halus dan lembut, tidak kasat mata, tak berupa dan tak dapat diraba) yang bersifat Rabbani ruhani. Lathiifah tersebut sesungguhnya adalah jati diri manusia atau hakikatnya. Dia adalah komponen utama manusia yang berpotensi mencerap (memiliki daya persepsi) yang memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuatu, dan mengenalnya, yang ditujukan kepadanya segala pembicaraan dan penilaian, dan yang dikecam, dan minta dipertanggungjawabkan. Sifat hati itu sendiri yang menjadi fokus kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan, dimana ia sering berubah-ubah, bolak-balik, maju-mundur dalam menerima kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan . Alquran menggunakan kata qalb sebanyak 132 kali dalam konteks yang berbeza-beza. Alquran sering mengidentitikan kata qalb dengan ’aql, seperti dalam QS 22:46. Demikian pula hati diertikan dengan nafs (lihat QS 89:27-8). Jelasnya hati ini adalah penghadapan wajah yang berbolak balik, terkadang terhadapkan pada Dia Ta’ala, dan di masa yang lain, hati cenderung menghadapkan dirinya pada urusan dunia. Dalam pandangan para sufi, hati yang lebih ditekankan pada makna lathiifah rabbaniyah ruuhaniyyah adalah sesuatu yang menjadi tumpuan pandangan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Alquran,

”Tidak ada dosanya jika kamu berbuat salah, kecuali jika hatimu menyengajanya.Dan Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Mengasihi” (QS 33:5).

Jika hati kita terluka, maka kita menjadi sakit. Jika ia mengalami kerusakan berat, maka kita pun meninggal dunia. Jika hati batiniah kita terjangkiti sifat-sifat buruk dari hawa nafsu kita, maka kita akan sakit secara spiritual. Jika hati tersebut secara keseluruhan didominasi oleh hawa nafsu, maka kehidupan spiritual kita pun akan mati. Hati jangan disalah artikan dengan emosi. Emosi, seperti amarah, rasa takut, dan keserakahan berasal dari hawa nafsu. Ketika menusia berbicara mengenai hasrat hati, mereka biasanya merujuk pada hasrat hawa nafsu. Hawa nafsu tertarik pada kenikmatan duniawi dan tidak peduli akan Tuhan; sedangkan hati tertarik kepada Tuhan dan hanya mencari kenikmatan di dalam Tuhan.

Bicara tentang hati dijelaskan dalam hadis berikut ”Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia sehat, maka seluruh tubuh pun akan sehat, jika ia sakit maka seluruh tubuh pun akan sakit. Itulah hati.”

Hati adalah sebuah kuil yang ditempatkan Tuhan di dalam diri setiap manusia; sebuah kuil untuk menampung percikan Ilahi di dalam diri kita. Dalam sebuah hadis qudsi terkenal, Allah berfirman, ”Aku, yang tak cukup ditampung oleh langit dan bumi, melainkan tertampung dalam hati seorang beriman yang tulus.” Kuil di dalam diri kita ini lebih berharga dari pada kuil tersuci sekalipun di muka bumi ini. Maka, jika kita melukai hati manusia lainnya dosanya lebih besar daripada merusak sebuah tempat suci di dunia ini.

Umi: Sentiasalah jaga hati.. agar dia menjadi makanan jiwa.

No comments: